Perkembangan
Pertanian Sayuran Di Indonesia Timur
Kabupaten
Manokwari Provinsi Papua Barat
(Merlin Amanda Sanoi - 522016062)
Sejauh yang kita ketahui
perkembangan pertanian di indonesia telah berkembang dengan luas ke seluruh
indonesia. Dapat diambil contoh pulau
jawa tengah pertanian disana sudah cukup berkembang dengan pesat. Walaupun
sebagian petani belum semua bisa mengembangkan budidaya mereka namun lahan pertanian
disana masih telah dipakai untuk bertani.
Perkembangan pertanian di
indonesia lebih berkembang di pulau jawa, pulau kalimantan dan lainnya terkecuali indonesia timur atau Pulau
Papua. Pulau Papua hanya sebagian daerah saja yang telah dalam proses membuka luas lahan pertanian untuk bertanam. Salah dua dari daerah di papua yang telah
berkembang pertaniannya yaitu, Merauke dan Manokwari.
Perkembangan Pertanian
sudah sangatlah lama ada namun tidak semua orang mengetahuinya.
Merauke telah membukan lahan untuk menanam
padi. Sedangkan Manokwari memiliki perkebunan sawit, perkebunan vanili dan di
Manokwari Selatan memiliki perkebunan bawang daun dan Padi Oransbari. Selain di atas, Manokwari juga dikenal sebagai kota
buah-buahan dan sayur-sayuran untuk pulau Papua. Letak daerah buah-buahan di
area kampus Universitas Papua (UNIPA).
Sedangkan Sayur-mayur dikembang oleh setiap petani disana.
Manokwari merupakan penghasil sayuran utama di
provinsi papua barat selain Kabupaten Sorong. Hampir sebagian besar dihasilkan
di manokwari, misalnya bawang putih, kentang dan wortel. Terdapat 21 jenis
tanaman yang dibudidayakan oleh petani di kabupaten manokwari dengan luas panen
tanaman mencapai 1.163 hektar dan produksi mencapai 5.310 ton dan rata-rata
produktivitas sebesar 3,55 ton/hektar. Produktivitas tertinggi adalah tanaman
kacang panjang sebanyak 13,75 ton/hektar.
Tanaman sayuran di
Kabupaten Manokwari secara umum masih dibudidayakan secara tradisional.
Ratarata kepemilikan lahan petani adalah kurang dari 1 Ha. Petani memiliki
peran sentral dalam rantai nilai sayuran, yang menjalankan hampir semua
kegiatan di lahan budidaya (on farm), mulai dari penanaman, pemeliharaan hingga
pemanenan. Namun petani belum memiliki kekuatan dalam menentukan harga jual.
Pasar untuk sayuran dari Manokwari didominasi oleh pasar lokal.
Pasokan
sayuran dari sentra-sentra produksi di Kabupaten Manokwari sampai saat ini
belum mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal, sehingga terpaksa masih harus
mendatangkan sayuran dari daerah lain (seperti Manado), yang ironisnya harganya
lebih murah dari hasil sayuran dari Manokwari. Pasar lokal masih sangat
terbuka, sehingga belum perlu untuk memperluas pasar ke luar daerah.
Berikut
Tabel luas area dan produksi tanaman sayuran di Kabupaten Manokwari tahun 2011
dan kontribusinya yerhadap total produksi tanaman sayuran provinsi Papua Barat
(termasuk melon dan semangka).
No
|
Komoditas
|
Luas Panen (Ha)
|
Produksi setahun(Ton)
|
Rata-rata produksi (Ton.Ha)
|
Kontribusi produksi untuk produksi
Papua Barat(%)
|
1
|
Bawang Merah
|
25
|
21
|
0,84
|
19,81
|
2
|
Bawang Putih
|
5
|
3
|
0,64
|
100
|
3
|
Bawang Daun
|
87
|
345
|
3,97
|
61,83
|
4
|
Kentang
|
78
|
170
|
2,18
|
100
|
5
|
Kubis
|
21
|
54
|
2,58
|
17,42
|
6
|
Kembang Kol
|
8
|
21
|
2,66
|
31,34
|
7
|
Petsai/Sawi
|
85
|
117
|
1,37
|
6,75
|
8
|
Wortel
|
14
|
25
|
1,76
|
100
|
9
|
Kacang Merah
|
3
|
5
|
1,50
|
25
|
10
|
Kacang Panjang
|
105
|
1.443
|
13,75
|
26,59
|
Pada
tabel diatas hanya menampilkan 10 dari 21 tanaman yang dihasilkan kabupaten
manokwari. Dapat dilihat hasil produksi yang paling tinggi berada pada tanaman
kacang panjang dengan luas lahan 105 m2, produksi selama satu tahun
1.443 ton, rata-rata produksi 13,75 Ton/Ha dan kontribusi kacang panjang untuk
produksi Papua Barat sebesar 26.59%.
Selain
di manokwari kota ada juga perkebunan sayur di Pegunungan Arfak. Di pegunungan
arfak sendiri merupakan pegunungan yang tinggi sehingga suhu disana sangat
dingin dengan suhu berkisar 15 ºC pada siang hari dan 9ºC malam hari. Jenis sayuran yang ditanam di pegunungan arfak anggi
ini adalah kentang, wortel, seledri dan bawang daun. Untuk penggunaan pupuk dalam proses budidaya
disana hanya menggunakan pupuk dari seresah daun. Petani yang bekerja disana
adalah penduduk asli pegunungan arfak sehingga budidaya disana masih sangat
tradisional. Kesuburan sayuran disana sangan bagus
dikarenakan tanah disana belum tersentuh pupuk atau pestisida kimia sintesis
sama sekali. Hal ini lah yang membuat suatu keunggulan disana. Perkebunan arfak
sendiri merupakan salah satu pemasok sayuran untuk provinsi papua barat.
Rumah
tradisional suku arfak ‘ Rumah Kaki Seribu’ yang berada di sekitar
perkebunan
bawang daun.
Salah
satu wisata yang menjadi sorotn paling banyak bagi setiap wisatawan adalah
rumah kaki seribu. Adanya rumah kaki seribu ini juga bertjuan untuk menarik
pembeli untuk hasil pertanian sayur-mayur di pegunungan arfak.
Hasil
produksi perkubunan pegunungan arfak sejauh ini kentang, wortel, seledri dan
bawang daun dipasarkan ke pasar di Manokwari Selatan (Ransiki) dan juga
Manokwari Kota pasar wosi dan pasar sanggeng. Selain ke pasar, pembeli pun
biasanya langsung beli di tempat.
Untuk
Harga jual Bawang Daun di tempat 1 kg seharga Rp 10.000/kg sedangkan untuk
harga jual dipasar Manokwari selatan (Ransiki) Rp 12.000/kg dan Manokwari kota
Rp 12.000/kg sampai Rp 14.000/kg.
Untuk
harga jual Rp 13.000/kg di tempat dan ke pasar Rp 15.000/kg sampai Rp 20.000/kg. Sedang kan Wortel Rp 10.000/kg ditempat dan
pasar Rp 13.000; sampai Rp15.000/kg. Untuk Seledri beli ditempat Rp 5.000/kg
dan pasar Rp 8.000/kg sampai Rp 13.000/kg.
Selain
dijual terkadang setiap pengunjung yang ke pegunungan arfak berwisata disana
hanya dikasih saja.
Sehingga
dapat disimpulkan bahwa pertanian di indonesia timur khususnya papua barat
manokwari sudah hampir berkekmbang dengan baik hanya kurang perluasan pasar
mereka saja.
Referensi
Melisa
Siahaya.2016.: https://travelnatic.com/pesona-alam-dan-keunikan-masyarakat-pegunungan-arfak-papua-barat/.
ILO – PCdP2 UNDP “Program
Pembangunan berbasis Masyarakat Fase II: Implementasi Institusionalisasi
Pembangunan Mata Pencaharian yang Lestari untuk
Masyarakat Papua”
Untuk info selengkapnya baca disini
https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---asia/---ro-bangkok/---ilo-jakarta/documents/publication/wcms_342738.pdf
Alasan Penulisan Artiel dapat klik disini



0 komentar:
Posting Komentar