Pertanian organik merupakan salah satu alternatif pertanian
modern. Pertanian organik mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari
pengunaan input bahan sintetik, baik berupa pupuk, herbisida maupun pestisida
sintetik. Namun
petani sering mengeluhkan hasil pertanian organik yang produktivitasnya
cenderung rendah dan lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Masalah
ini sebenarnya bisa diatasi dengan memanfaatkan bioteknologi berbasis mikroba
yang diambil dari sumber-sumber kekayaan hayati.
Tanah yang
didalamnya terdapat keragaman mikroorganisme, seperti bakteri, aktinomicetes,
fungi, protozoa, alga, dan virus. Sebagian besar mikroba tanah memiliki peranan
yang menguntungkan bagi pertanian, yaitu berperan dalam menghancurkan limbah
organik, recycling hara tanaman, fiksasi biologis nitrogen, pelarutan fosfat,
merangsang pertumbuhan, biokontrol patogen, dan membantu penyerapan unsur hara.
Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran
penting mikroba tersebut.
Hama dan
penyakit merupakan salah satu kendala serius dalam budidaya pertanian organik.
Jenis-jenis tanaman yang terbiasa dilindungi oleh pestisida kimia umumnya
sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit ketika dibudidayakan dengan
sistem organik.
Di alam
terdapat mikroba yang dapat mengendalikan organisme patogen tersebut. Organisme
patogen akan merugikan tanaman ketika terjadi ketidakseimbangan populasi antara
organisme patogen dengan mikroba pengendalinya, di mana jumlah organisme
patogen lebih banyak daripada jumlah mikroba pengendalinya. Apabila kita dapat
menyeimbangkan populasi kedua jenis organisme ini, hama dan penyakit tanaman
dapat dihindari. Mikroba yang dapat mengendalikan hama tanaman antara lain
Bacillus thurigiensis (BT), Bauveria bassiana, Paecilomyces fumosoroseus, dan
Metharizium anisopliae. Mikroba ini mampu menyerang dan membunuh berbagai serangga
hama. Mikroba yang dapat mengendalikan penyakit tanaman, misalnya, Trichoderma
sp yang mampu mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh Gonoderma sp,
JAP (jamur akar putih), dan Phytoptora sp. Beberapa biokontrol yang tersedia di
pasaran, antara lain, Greemi-G, Bio-Meteor, NirAma, Marfu-P, dan Hamago.
Produk-produk
bioteknologi mikroba hampir seluruhnya menggunakan bahan-bahan alami. Produk
ini dapat memenuhi kebutuhan petani organik. Kebutuhan bahan organik dan hara
tanaman dapat dipenuhi dengan kompos bioaktif dan aktivator pengomposan.
Aplikasi biofertilizer pada
pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini
dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia. Serangan hama dan penyakit tanaman dapat
dikendalikan dengan memanfaatkan biokontrol.
Pertanian
Indonesia yang menerapkan sistem pertanian organik umumnya hanya
mengendalikan kompos dan cenderung membiarkan serangan hama dan penyakit
tanaman. Dengan tersedianya bioteknologi mikroba, petani organik tidak
perlu khawatir dengan masalah ketersediaan bahan organik, unsur hara,
dan serangan hama serta penyakit tanaman.
Referensi :
Sunarlim, Novianti, Sutrisno. 2003. Perkembangan Penelitian Bioteknologi Pertanian di Indonesia. Buletin AgroBio. 6(1) : 1-7. https://drive.google.com/open?id=1D9ClBMacumHbNw4BIgCGtdLwOSLu16Wn
Suranto, dkk. 2012. Bioteknologi. 9(2) : 35-72 https://drive.google.com/open?id=1On_NfhxZUa0Ey-oEKbws-wDKGL-VQzY5
Alasan penulisan artikel : klik disini
0 komentar:
Posting Komentar